Hancurkan Musuh Secara Total

Pertimbangan :
Semua pemimpin hebat dalam catatan sejarah tahu bahwa seorang musuh yang terlalu ‘berbahaya’ wajib untuk dihancurkan secara total. Tidak ada kompromi dalam hal ini.

Jika ada satu bara api yang anda sisakan untuk menyala, betapa pun redupnya bara itu, pada akhirnya kebakaran lah yang pasti terjadi.

Jika sudah berhadapan dengan rival anda yang paling ganas, pastikan anda menghancurkan nya secara menyeluruh, bukan hanya tubuh fisik nya, melainkan juga semangatnya.

Kisah dari mereka yang taat akan gagasan ini :

Sejarah negeri Cina adalah sejarah yang penuh dengan kisah pertempuran berdarah. Banyak dalam literatur kelasik mereka menjelaskan perihal musuh-musuh yang dibiarkan hidup dan bangkit kembali menghantui kekuasaan para penguasa yang terlampau lunak.

Potret diri Sun-tzu

Sun-tzu Sang ahli strategi militer klasik bahkan memiliki gagasan bahwa menghancurkan musuh adalah hal yang mutlak untuk dilakukan para penguasa. Gagasan nya sederhana : Musuh anda bertugas untuk mengalahkan anda, jadi tidak ada hal yang jauh mereka inginkan kecuali kehancuran anda.

Menurut Sun-tzu, anda tidak boleh terlalu lunak terhadap mereka. Jika saat berjuang menghadapi mereka anda berhenti ditengah jalan karena rasa belas kasihan, hal ini tidak akan banyak merubah keadaan.Mereka yang anda biarkan karena rasa kasihan, hanya akan merasa dipermalukan dan suatu hari jika keadaan memungkinkan mereka akan membalas dendam.

Mao Zedong adalah pemimpin partai komunis cina yang taat akan hukum ini, dia adalah pembaca setia tulisan klasik Sun-tzu dan juga mengerti sejarah cina secara umum. Pada tahun 1934 dia dan pasukannya yang sangat sedikit jumlahnya dan sangat terbatas persenjataan nya melarikan diri ke wilayah pegunungan tandus diseblah barat Cina. Mereka melarikan diri dari pasukan demokrasi Cina pimpinan Chang Kai-shek yang memiliki jauh lebih banyak prajurit dan persenjataan yang juga jauh lebih lengkap.
Peristiwa ini dikenal dengan istilah Long March dalam sejarah Cina.

Chiang Kai-shek yang berpaham demokratis bertekad untuk melenyapkan setiap anggota golongan komunis Cina hingga yang terakhir. Mao selalu kalah dan dipukul mundur oleh pasukan Chiang yang jauh superior, hingga beberapa tahun kemudian pasukan Mao yang ketika awal melarikan diri berjumlah 75.000 orang, kini hanya tersisa 10.000 orang. Jumlah yang sangat sedikit meskipun dalam perang modern.

Long March
Mao Zedong Bersama pasukan setianya ketika menyelamatkan diri dari kejeran pasukan Chang Kai-shek

Tahun 1937 bangsa Jepang menyerang negeri Cina, Chiang Kai-shek selaku pemimpin Rezim demokrasi Cina pun harus melawan Invansi mereka.
Melihat kondisi kaum komunis Cina yang sudah sangat lemah, Chiang memutuskan bahwa Mao dan para pengikutnya bukanlah lagi sebuah ancaman. Chiang lebih berkonsentrasi melawan invasi Jepang dan berhenti untuk memerangi kaum komunis.

Sepuluh tahun kemudian,
keadaan para pengikut dan tentara komunis Pimpinan Mao Zedong mulai pulih. Bahkan kali ini keadaan mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya, merekapun memutuskan untuk menyerang balik pasukan demokratis pimpinan Chang.

Pasukan Chang yang dulu nya lebih superior dari lawan mereka, sekarang dibuat kocar-kacir. Keadaan mereka bebrbalik, sekarang saatnya mereka yang diburu oleh pasukan komunis pimpinan Mao. Chang yang terus menerus dikalahkan oleh pasukan komunis Mao, terpaksa melarikan diri ke pulau Taiwan. Sampai Hari ini, tidak ada Demokrasi di Cina daratan, Semuanya dikuasai oleh rezim komunis pimpinan Mao.

Chang Kai-shek dan Mao Zedong dalam Negosiasi Chongqing

Chang Kai-sek yang awalnya memiliki kekuasaan yang jauh lebih unggul dari Mao, hanya mendapatkan secuil pulau yang bernama Taiwan.
Dari kisah ini kita bisa belajar bahwa Chang Kai-sek telah melupakan pelajaran berharga dari leluhur mereka Sun-tzu yang menyarankan untuk menghancurkan musuh secara total. Sedangkan Mao memilih untuk tidak melupakan ajaran klasik tersebut.

Sadarilah hal ini, Bahwa dalam kehidupan modern, kita pasti memiliki tujuan dan goals tertentu. Untuk mencapai tujuan dan goals itu ada kalanya kita menemui para pembenci, rival hingga musuh yang membahayakan. Pasti ada orang yang tidak mau berdamai dengan anda, sekeras apapun anda mengusahakan nya.

Sadarilah bahwa hal ini bukan persoalan ‘pembunuhan’, melainkan persoalan ‘pengasingan’. Jika anda telah berhasil memperlemah musuh anda, maka secepat mungkin ‘asingkan’ mereka. Perlemah fisik dan mental mereka. Putuskan akses mereka dari sumber daya sehingga kesempatan mereka untuk bangkit sangatlah kecil.

Jika kita melihat keadaan Indonesia saat ini, kita akan menemukan isu tentang kebangkitan PKI. Terjadi banyak polemik dalam hal ini, banyak yang menganggap isu ini adalah salah satu manuver politik yang sengaja digoreng oleh oknum Pro-Orba untuk mendapatkan tampuk kekuasaan di pemilihan umum berikutnya. Namun apakah benar demikian ?

Jika anda melihat sejarah negeri Cina yang sebelumnya sudah saya jelaskan, maka anda akan mengerti bahwa ‘sejarah selalu berulang’.
Di era revolusi kemerdekaan Indonesia PKI adalah salah satu partai yang memiliki massa dan pengikut yang banyak disamping Masjumi dan PNI.
Namun karena penghianatan yang mereka lakukan, rakyat bersama ulama dan tentara memutuskan untuk menghabisi mereka.

Masa pendukung PKI

Keadaan anggota PKI dimasa itu persis keadaan Mao Zedong ketika peristiwa Long March terjadi. Mereka sedikit dan dalam keadaan tersudut.
Hal ini berlangsung cukup lama, hampir sepanjang pemerintahan Orde Baru berkuasa. Tidak ada yang perlu ditakuti dari PKI ketika Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang kuat seperti Soeharto. Namun Permasalahan nya muncul ketika sosok pemimpin ‘Kuat’ ini hilang.

Perlu anda ketahui bahwa musuh sebenarnya tidak pernah melupakan kekalahannya, mereka hanya mundur untuk sementara waktu, ketika keadaan mereka pulih mereka akan kembali menyerang anda. Ketika Reformasi terjadi, negeri ini mengalami perubahan yang sangat kontras.
Mulai dari HAM dan Kebebasan berorganisasi menjadi isu utama yang digaungkan. Tentunya musuh lama bangsa ini yaitu PKI, tahu persis bahwa dalam keadaan yang rapuh inilah mereka dapat tumbuh subur. Dengan tameng HAM dan kebebasan berorganisasi mereka mencoba membangun kembali sel-selnya.

Para petinggi PKI bertemu langsung dengan Pemimpin Komunis Cina Mao Zedong

Pengikut PKI tidaklah musnah, mereka hanya ‘memulihkan’ diri untuk sementara waktu. Ketika keadaan sudah mendukung seperti ketika negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang lemah, mereka perlahan-lahan akan menunjukkan diri. Persis seperti Chiang Kai-sek yang terlalu fokus menghadapi invasi Jepang dan mimilih untuk mengabaikan musuh lamanya yaitu komunis pimpinan Mao, seperti itulah keadaan bangsa kita saat ini.

Saya tahu bahwa negara Indonesia mengalami berabagai macam permasalahan di segala sektor, namun musuh lama kita bersama yang bernama komunis tetap harus di hancurkan secara total. Jika hal ini tidak menjadi perhatian, maka kita hanya perlu menunggu waktu saja hingga akhirnya posisi akan berbalik, persis seperti Chang yang pada awalnya memiliki tentara demokrasi berjumlah lebih banyak dan bersenjata lebih lengkap dikalahkan oleh musuh bebuyutan mereka tentara komunis Mao yang dulunya mereka sepelekan karena dianggap sudah lemah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: