Pentingnya Tujuan Pendidikan Yang Adaptif

Jika kita ingin mencapai ‘sesuatu hal’ tentunya kita perlu menentukan terlebih dahulu tujuannya itu apa, entah itu hal yang sederhana misal ingin menurunkan berat badan 5 kg dalam waktu satu tahun atau hal yang lebih kompleks seperti memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia secara total. Semuanya tentu harus dimulai dengan satu kata yaitu : “WHY ?”.
Niat dan Alasan yang jelas akan menghasilkan performa kerja yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya, semakin jelas dan kuat ‘motif’ anda, maka semakin baik juga bahan bakar yang anda miliki .

Kita ambil contoh kasus diatas, seseorang yang ingin menurunkan berat badan karena alasan hanya ingin mengikuti tren semata, pasti akan kalah dengan mereka yang memiliki alasan yang lebih kuat misalnya mereka yang dipaksa oleh dokter untuk menurunkan berat badan karena implikasi penyakit tertentu. Orang pertama yang hanya mengikuti tren semata tidak akan memiliki “WHY” sekuat orang kedua. Jika orang pertama memiliki banyak “alasan” untuk berleha-leha, maka orang kedua sama sekali tidak memiliki alasan , bagi mereka ini adalah semacam one way ticket, do it or die.

Kita harus memiliki dasar yang kuat agar Goals yang kita tuju itu kokoh dan tak tergoyahkan. Dengan memiliki goals yang motifnya kuat diharapkan kita dapat lebih konsisiten dan presisiten dalam proses untuk mencapainya. Penentuan tujuan tidak hanya sebatas contoh sederhana seperti kedua orang yang ingin menurunkan berat badan tadi, hal ini juga berlaku pada hal-hal yang lebih kompleks seperti hanya dalam hal Pendidikan.

Banyak teori yang membahas tentang tujuan dalam bidang pendidikan, mulai dari pandangan kaum humanis seperti Jhon Dewey yang menganggap bahwa pendidikan adalah proses panjang untuk memanusiakan manusia, hingga pandangan kaum realist seperti Mr.Hutchin yang menganggap bahwa tujuan pendidikan adalah untuk melatih hewan yang mampu berfikir rasional untuk berfikir lebih rasional.

“the task of education is to make rational animals more rational”
-Mr. Hutchin-

Begitu juga mengenai teori dari tujuan pendidikan sebagai “Cultivation of the intellect” yang menganggap bahwa tujuan pendidikan adalah sebagai tempat penanaman nilai, artinya teori ini berpandangan bahwa pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang ‘ditanam’ sedini mungkin.
Banyak sekali para ahli yang mengemukakan gagasan mereka mengenai tujuan dari pendidikan. Semuanya tentu memiliki latar belakang yang berbeda sehingga wajar jika menghasilkan ide-ide yang berbeda pula.

Tujuan dan nilai memang haruslah kuat dan kokoh, namun bukan berarti mereka harus kaku dan tidak adaptif dalam dinamika keadaan. Tujuan pendidikan yang baik adalah tujuan pendidikan yang kuat, namun tetap bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Indonesia memiliki tujuan pendidikan yang sudah jelas, salah satunya sudah tercatat di UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Walaupun tujuan pendidikan Indonesia sudah jelas tertulis di dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, namun kenyataan dalam 10 tahun terakhir masih saja kualitas pendidikan kita stagnan dan hampir tidak berjalan. Menurut saya hal ini adalah salah satu indikator dari tidak adaptifnya tujuan pendidikan kita. Tujuan pendidikan kita idealnya memang haruslah kuat, dalam hal ini bangsa Indonesia wajib menjadikan Pancasila sebagai dasar utamanya, namun juga dalam waktu yang bersamaan haruslah bersifat fleksibel sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Jika anda perhatikan, tujuan pendidikan kita itu terakhir kali dirumuskan tahun 2003, sekitar 17 tahun yang lalu. Bayangkan berapa jauhnya perbedaan zaman dalam kurun waktu hampir 2 dekade itu. Ditahun 2003 kita tidak mengenal namanya belajar jarak jauh, kita juga memiliki banyak keterbatasan dalam bidang teknologi yang memungkinkan kita untuk terhubung dengan seluruh dunia, namun sekarang keadaan sudah sangatlah berbeda. Kita sudah hidup di era Informasi, dimana sumber ilmu pengetahuan dapat diakses dengan sangat mudah, pemerintah harusnya mampu memanfaatkan keadaan ini untuk melejitkan kualitas pendidikan bangsa melalui kebijkan-kebijakan strategis yang diambilnya.

Pemerintah perlu mengkaji ulang tujuan dan teknis kebijakan dalam bidang pendidikan. Idealnya tujuan pendidikan bukan hanya untuk memecahkan permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang, namun juga mampu memecahkan permasalahan 10 tahun kedepan. Sangat wajar sekali jika kita menjadi salah satu negara dengan kualitas pendidikan paling buruk dunia, salah satu penyebabnya pasti karena kita terlambat mengupgrade tujuan pendidikan kita secara khususnya dan teknis pendidikan secara umunya.

Salah satu bukti dari kadaluarsa nya sistem pendidikan kita dapat anda lihat di waktu pandemi seperti sekarang. Semua orang glabakan dan tidak siap dengan keadaan darurat di tahun 2020, baik itu guru, siswa bahkan pengambil kebijakan pendidikan semuanya kebingungan. Ya, kita memang sudah terlalu lama menerapkan sistem pendidikan ‘usang’ yang sama sekali tidak relevan dengan keadaan zaman, jadi sangatlah wajar jika sebagian besar orang terperangkap didalam ‘dogma’ yang hanya akan memperlambat pengembangan diri mereka.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia adalah dengan melakukan perubahan secara bertahap pada tujuan pendidikan dan sistem pendidikan bangsa. Segala elemen pendidikan, baik itu pemerintah sebagai pemangku kekuasaan, guru sebagai ujung tombak pendidikan dan siswa/mahasiswa sebagai agen utama perubahan wajib hukumnya menumbuhkan sifat adaptif dalam perkembangan zaman.

Para pemangku kekuasaan harus memandang pendidikan sebagai proses yang dinamis, artinya dalam mengambil kebijakan mengenai isu pendidikan mereka tidak boleh bersifat rigid dan final. Selain itu juga pemerintah harus berpandangan 10-20 tahun kedepan, Pendidikan sejatinya bukan hanya untuk memecahkan permasalahan hari ini, namun juga harus dapat memecahkan permasalahan di masa depan.

Para guru dan tenaga pendidik wajib membekali diri dengan berbagai keterampilan yang memungkinkan mereka secara efektif bekerja berdampingan dengan teknologi masa kini maupun teknologi yang mungkin hadir dimasa depan. Perlu anda ketahui bahwa salah satu penyebab amburadulnya pendidikan Indonesia dimasa pandemi seperti sekarang ini adalah karena para calon guru yang di didik di kampus keguruan tidak mendapatkan cukup SKS mata kuliah mengenai pembelajaran jarak jauh dan teknologi pendidikan.

Para siswa harus memiliki kesadaran bahwa belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat, oleh sebab itu hal yang pertama kali wajib ditumbuhkan dalam diri siswa adalah ‘sifat pembelajar’. Dengan memiliki kerangka berfikir seorang pembelajar inilah siswa dapat memiliki kesadaran bahwa proses belajar sesungguhnya ialah untuk diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain. Guru perlu meyakinkan siswa bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat ditransfer secara langsung seperti analogi gelas kosong yang selama ini kita pahami, Ilmu pengetahuan harus lah diakuisisi secara mandiri oleh siswa melalui konstruksi fikiran yang mereka miliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: